
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Universitas Negeri Surabaya (Unesa) kedatangan delegasi dari University of Sydney, Australia di Rektorat Kampus II Lidah Wetan pada Senin, 2 Februari 2026. Kunjungan rombongan yang terdiri dari 16 mahasiswa, satu dosen, satu profesor, dan satu staf ini merupakan bagian dari program mobilitas yang didanai Pemerintah Australia melalui skema New Colombo Plan.
Selama satu minggu di Unesa, delegasi akan fokus mendalami sistem pendidikan di Indonesia serta meninjau fasilitas dan penanganan bagi siswa maupun mahasiswa disabilitas.
Kepala Subdirektorat Urusan Internasional, Direktorat Unesa Global Engagement (UGE), Asrori, menjelaskan bahwa mahasiswa Australia tersebut akan mengenal langsung implementasi program inklusif di berbagai unit.
Beberapa fakultas yang menjadi jujugan observasi antara lain Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) yang fokus pada prodi Pendidikan Inklusif, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Kedokteran (FK), hingga Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK).
Selain kegiatan mahasiswa, para dosen pendamping juga melaksanakan kuliah tamu dan focus group discussion bersama akademisi Unesa untuk memperkuat pertukaran wawasan secara dua arah.

www.unesa.ac.id
Asrori menegaskan bahwa Unesa selalu siap untuk melanjutkan program ini di tahun-tahun mendatang dengan harapan jumlah mahasiswa University of Sydney yang terlibat akan semakin meningkat.
Sementara itu, Profesor dari University of Sydney, David Evans, memberikan apresiasi terhadap reputasi besar Unesa dalam bidang inklusi. Menurutnya, fokus Unesa sejalan dengan pusat penelitian yang mereka miliki di Australia, yaitu Center for Disability Research and Policy.
Melalui kolaborasi ini, ia berharap kedua universitas dapat saling berbagi pengalaman dalam mengembangkan sistem pendidikan inklusif agar seluruh peserta didik maupun pengajar dapat berperan lebih aktif dalam proses perkuliahan.
Kerja sama melalui skema New Colombo Plan ini diharapkan tidak hanya memberikan wawasan lintas budaya, tetapi juga memperkuat standar pelayanan inklusi di tingkat internasional bagi kedua belah pihak.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti penguatan hubungan akademik antara Indonesia dan Australia yang dibangun melalui riset, pertukaran mahasiswa, dan kebijakan pendidikan yang adaptif terhadap kebutuhan disabilitas.][
***
Reporter: Azam (internship), dan Azhar (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: