
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Unesa Global Engagement (UGE) kembali memperkuat langkah internasionalisasi kampus melalui penyelenggaraan Info Sessions Spencer Foundation: Research Grants on Education pada Jumat, 5 Desember 2025. Kegiatan yang berlangsung secara daring ini menjadi ruang strategis bagi dosen Unesa untuk memahami peluang hibah global yang kian kompetitif.
Direktur UGE, Muchamad Arif Al-Ardha menegaskan bahwa penguatan ekosistem riset internasional kini menjadi prioritas lembaganya. Ia menyebut bahwa Unesa telah menyiapkan sistem pemetaan peluang hibah luar negeri yang jauh lebih masif.
“Setiap bulan terjadwal ada 12 research grants yang akan kita sharingkan, khususnya yang dari luar negeri,” ujarnya. Upaya ini menjadi bentuk komitmen Unesa dalam membuka akses informasi seluas mungkin agar dosen semakin terlibat dalam panggung riset global.
Dalam pemaparannya, dosen FIKK yang akrab disapa Arda itu memberi sorotan khusus pada Spencer Foundation—lembaga filantropi terkemuka di Amerika Serikat yang pendanaannya menyasar riset pendidikan lintas disiplin.
Ia menjelaskan bahwa Spencer tidak hanya menaungi penelitian pendidikan dalam arti sempit, tetapi juga membuka ruang bagi peneliti psikologi, sosiologi, sejarah, hingga teknologi pembelajaran.

www.unesa.ac.id
“Sehingga tidak hanya merangkul peneliti dari Fakultas Ilmu Pendidikan, tetapi juga dari psikologi, sosiologi, sejarah, teknologi, dan pembelajaran,” jelasnya.
Fokus isu Spencer pada teknologi digital, paradigma kelas baru, dan peran pendidikan dalam ekosistem modern dinilai sangat relevan dengan arah pengembangan keilmuan Unesa.
Ia menambahkan, yang terpenting dari Spencer bukan sekadar tema risetnya, melainkan kualitas masalah yang diangkat. Proposal yang kritis, relevan, dan memiliki dampak luas akan lebih berpeluang mendapatkan dukungan.
Ke depan, Unesa akan menindaklanjuti sejumlah bidang prioritas Spencer Foundation untuk disiapkan menjadi proposal bersama yang lebih terstruktur dan kompetitif.
Wakil Rektor IV Bidang Perencanaan, Pengembangan, Kerja Sama, dan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), Dwi Cahyo Kartiko menegaskan bahwa dunia akademik hari ini tidak lagi dapat bertumpu pada kerja lokal semata.
“Kolaborasi internasional bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah kebutuhan,” tegasnya.
Melalui keterlibatan dalam jaringan global, dosen dapat memperluas kolaborasi, meningkatkan kapasitas, serta menghasilkan riset yang lebih berkualitas dan diakui secara internasional.

www.unesa.ac.id
Dengan mengusung tema “Research Grant for Education Special Foundation”, Wakil Rektor IV berharap kegiatan ini menjadi pemantik keberanian bagi para dosen untuk menjelajahi lebih banyak peluang pendanaan internasional.
Ia yakin bahwa potensi Unesa sangat besar—baik dari sisi ide maupun sumber daya manusia. Karena itu, para dosen didorong menyiapkan proposal yang unggul, inovatif, dan berdampak luas.
“Kita memiliki potensi yang sangat besar—ide-ide luar biasa, serta SDM yang tidak kalah dengan negara lain untuk bersaing mendapatkan grant internasional,” kata guru besar FIKK itu.
Ia menutup dengan harapan agar sesi ini bukan hanya ruang berbagi informasi teknik hibah, tetapi juga wahana membangun budaya kompetitif yang sehat di lingkungan kampus. Dengan persiapan yang matang dan keberanian untuk melangkah, Unesa diharapkan mampu memperkuat perannya dalam peta keilmuan global dan terus hadir sebagai perguruan tinggi yang adaptif serta visioner. ][
***
Reporter: Tarisa Adistia (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: