
Unesa.ac.id. SURABAYA—Sauqi Sawa Bikalawan tidak hanya berhasil mengukir prestasi membanggakan sebagai wisudawan terbaik program magister (S-2) dengan IPK 3,99, tetapi juga bebas tesis, karena karya penelitiannya tembus publikasi jurnal internasional Scopus Q-3, yang direkognisi setara dengan tesis.
Selain itu, mahasiswa asal Kediri itu juga berhasil lulus cepat hanya dalam waktu 3 semester atau 1,5 tahun. Lulusan Prodi S-2 Pendidikan Olahraga, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang akrab disapa Sauqi ini menceritakan pengalaman akademiknya. Ia mengatakan, setelah lulus studi S-1 dari Unesa langsung melanjutkan studi S-2 juga di Unesa dengan beasiswa fresh graduate selama 2 semester.
Sembari kuliah, ia juga menjadi asisten dosen yang membantu meneliti dan mengajar. Prestasi akademik Sauqi terbilang mentereng, terutama di bidang riset. Ia pernah menjadi Best Presenter Poster 1 The 10th ACPES International Conference di Malaysia (2024), Best Presenter 3 The 5th International Seminar of Sport and Exercise Science di Indonesia (2024), mempublikasikan 5 Jurnal Scopus 2025, memiliki 22 Sertifikat Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan mengikuti berbagai kepanitian seminar internasional.
Bahkan, penelitiannya berjudul “Identifying the Evolution of Learning Methods in Physical Education: A Systematic Review of Modern Approaches and Digital Integration (2025)” berhasil terpublikasi di Jurnal Internasional Scopus Q-3 sehingga mendapatkan rekognisi bebas tesis.
“Saya mencoba mengidentifikasi metode pembelajaran pendidikan jasmani mulai dari awal perkembangan tahun 1800-an sampai 2025 menggunakan pendekatan digital,” ujarnya.
Sauqi menceritakan keberhasilan publikasinya tersebut yang berawal sejak S-1, karena sering membantu dosen penelitian. Ia banyak mengetahui berbagai jenis penelitian. Ia lalu memperdalam dan mengasah kemampuan meneliti saat studi S-2.
Ia menggali informasi rekognisi tesis melalui publikasi Scopus Q-3. Namun, saat semester 1, koordinator prodi menyampaikan belum terdapat peraturan tersebut. Tak menyerah. Saat semester 2, Sauqi kembali bertanya. Dan, ternyata kebijakan rekognisi sudah mulai diajukan ke pimpinan untuk ditindaklanjuti.
Pada semester 2 akhir, Sauqi sudah menyusun artikel agar jika peraturan tentang rekognisi sudah ada, ia telah memiliki artikel yang siap digunakan. Setelah melalui berbagai konsultasi, artikelnya pun tembus jurnal internasional Scopus Q-3, diterima tanpa revisi.
Sauqi menyampaikan tiga tips menjadi wisudawan terbaik jenjang S-2. Pertama,aktif berpendapat saat di kelas karena dosen ingin mahasiswanya berani berpendapat dan berdiskusi bahkan hingga berdebat yang konstruktif.
Kedua, saling membantu antarteman satu kelas, karena banyak yang sudah bekerja sehingga harus bisa bekerja sama. Ketiga, berdoa karena apapun yang dilakukan, pasti ada berbagai variabel lain yang tidak bisa dikontrol. Dan, cara mengontrol variabel tersebut adalah dengan doa.
Setelah lulus S-2, Sauqi berencana melanjutkan jenjang S-3. Ia mengatakan jika diberi kesempatan mendapatkan beasiswa, ia pasti akan mengambil kesempatan itu sembari terus mengupgrade diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. ][
***
Reporter: Azhar (FBS)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: