Sebagus apapun kebijakan pendidikan keberhasilannya ditentukan oleh implementasi di lapangan. Saat ini, implementasi pendidikan masih mempunyai jarak dari kebijakan yang ditentukan. "Halaman depan dengan halaman belakang dalam dunia pendidikan masih berjarak sehingga memunculkan permasalahan yang seakan tidak ada habisnya," ujar Prof. Dr. Muchlas Samani, rektor Unesa dalam diskusi terbatas di ruang redaksi Jawa Pos, Rabu, 1 Mei 2013. Kondisi pendidikan di Indonesia diwarnai oleh keriuhan komentar dari semua orang meskipun kadang tidak mengerti hakikat pendidikan. "Semua orang pingin komentar dan semua orang merasa tahu," tambah rektor Unesa. Padahal, siswa di kelas tenang saja dalam belajar. Jadi, kurikulum jangan diributkan. "Guru tidak pernah membaca kurikulum dan yang dibaca hanya buku pelajaran," tukasnya. Untuk itu, tataran implementasi yang harus dibenahi dengan serius.
Diskusi berjalan dengan santai dan penuh gagasan. Hadir dalam diskusi Harun, kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur; sekretaris Dewan Pendidikan Jawa Timur; PR I; PR III; dekan FE, FIS, dan FMIPA; ketua PPG, kepala humas Unesa, direktur Sekolah Lab Unesa; dan wartawan Jawa Pos. Mereka memberikan masukan tentang pendidikan di Indonesia dalam rangka Hari Pendidikan Nasional. Arif Santoso, koordinator Liputan Jawa Pos menyatakan puas dengan diskusi pendidikan itu. "Saya setuju jika diskusi pendidikan ini dilaksanakan secara rutin," tambah Mas Arif, begitu panggilan sehari-harinya. (yy/syt)
Share It On: