Pendidikan karakter kini memang menjadi isu utama pendidikan, selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak anak bangsa, pendidikan karakter ini pun diharapkan mampu menjadi pondasi utama dalam mensukseskan Indonesia Emas 2025. Eksistensi budaya lokal perlahan sudah luntur sehingga pendidikan karakter yang diharapkan tidak terwujud. Budaya lokal ternyata berperan penting terhadap pendidikan karakter yang ingin dicapai bangsa ini terutama di kalangan pendidikan dasar. Memperingati Dies Natalisnya yang menginjak tiga tahun jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FIP mengadakan Seminar Nasional (13/2).Seminar yang bertempat di Auditorium FBS ini bertemakan Menjajaki Eksistensi Budaya Lokal Untuk Pendidikan Karakter Di sekolah Dasar. Menghadirkan dua orang pembicara, Prof. Dr. Juntuka Nur Ihsan, M.Pd.(UPI Bandung) dan Prof. Dr. Warsono, M.S (Unesa).
Semua karakter-karakter yang diharapkan bermula dari karakter seorang pengajar yang bisa memberikan contoh yang baik. Tenaga pendidik untuk anak pendidikan dasar adalah panutan, karena dari seorang guru lah tertanam maklumat awal mana yang baik dan mana yang buruk. Perihal penyampaian bisa disesuaikan dengan budaya daerah masing-masing. Seorang pengajar juga harus menanamkan nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat. Karena pendidikan karakter tanpa menggunakan konteks masyarakat dan budaya tertentu, akan mengakibatkan etika dan karakter tetap bersifat abstrak dan berada diluar ruang lingkup pengalaman peserta didik, sehingga tidak relevan. Begitulah inti dari seminar nasional yang dihadiri oleh para mahasiswa dan guru SD ini.
Panitia ingin memperlihatkan eksistensi jurusan PGSD dari berbagai acara yang dilaksanakan (7-12/2) seperti futsal antar kelas, karaoke campursari, lomba tumpeng, fotografi, kelas ideal, dan ditutup dengan jalan sehat. Menurut salah satu panitia, Tyas Mardia Ratna menjelaskan bahwa serangkaian acara tersebut dinilai memiliki usaha dalam mengeksistensikan budaya lokal Jawa Timur, Semoga serangkaian acara yang telah diadakan mampu mengembalikan eksistensi budaya lokal yang perlahan telah terkikis oleh zaman. Begitu imbuh Tyas. (Masruuhah, Rachmadani, Sigit)
Semua karakter-karakter yang diharapkan bermula dari karakter seorang pengajar yang bisa memberikan contoh yang baik. Tenaga pendidik untuk anak pendidikan dasar adalah panutan, karena dari seorang guru lah tertanam maklumat awal mana yang baik dan mana yang buruk. Perihal penyampaian bisa disesuaikan dengan budaya daerah masing-masing. Seorang pengajar juga harus menanamkan nilai-nilai budaya yang ada dalam masyarakat. Karena pendidikan karakter tanpa menggunakan konteks masyarakat dan budaya tertentu, akan mengakibatkan etika dan karakter tetap bersifat abstrak dan berada diluar ruang lingkup pengalaman peserta didik, sehingga tidak relevan. Begitulah inti dari seminar nasional yang dihadiri oleh para mahasiswa dan guru SD ini.
Panitia ingin memperlihatkan eksistensi jurusan PGSD dari berbagai acara yang dilaksanakan (7-12/2) seperti futsal antar kelas, karaoke campursari, lomba tumpeng, fotografi, kelas ideal, dan ditutup dengan jalan sehat. Menurut salah satu panitia, Tyas Mardia Ratna menjelaskan bahwa serangkaian acara tersebut dinilai memiliki usaha dalam mengeksistensikan budaya lokal Jawa Timur, Semoga serangkaian acara yang telah diadakan mampu mengembalikan eksistensi budaya lokal yang perlahan telah terkikis oleh zaman. Begitu imbuh Tyas. (Masruuhah, Rachmadani, Sigit)
Share It On: