Surabaya - Ada mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa pendidikan tata boga Unesa sebagai bentuk tugas akhir. Perkuliahan itu ialah Cipta Karya Boga. Gelaran Cipta Karya Boga pada 2016 ini adalah ajang bagi mahasiswa angkatan 2012 untuk pamer skill memasaknya. Sebanyak 44 peserta yang terbagi atas masing-masing lima mahasiswa terlibat dalam acara bertema "Inovasi Hidangan Kontinental Berbasis Bahan Lokal" ini. Setelah tahapan pembuatan dari peserta, penilaian dan perbaikan oleh dosen tata boga Unesa beberapa minggu sebelumnya, kamis (21/4/2016) kemarin digelarlah tahapan selanjutnya yaitu Grand Juri Cipta Karya Boga 2016 di Gedung Gema, Kampus Unesa Ketintang.Grand Juri Cipta Karya Boga sendiri ialah tahapan dimana masakan mahasiswa dihidangkan dalam sebuah pameran untuk dinilai oleh juri yang didatangkan dari industri. Dua juri yang dihadirkan tahun ini berasal dari chef dan prastisi masakan Hotel Mercure dan Hotel Sheraton, Surabaya. Acara yang berlangsung dari pukul 08.00-12.00 WIB itu diawali dengan sambutan-sambutan. Baru kemudian juri mendatangi meja demi meja untuk menilai hasil karya mahasiswa dari segi penampilan dan inovasi. Terakhir, juri mencicipi tiap masakan untuk menilai cita rasanya.
Ada dua jenis masakan yang ditampilkan di ajang ini, masakan awetan (seperti permen atau makanan instan) dan masakan kontinental (khas dari berbagai negara). Tomy, ketua pelaksana Cipta karya boga ini menyatakan, meski kedua jenis masakan itu ialah produk dari berbagai negara, namun bahan dan isinya tetap mengusung citarasa lokal. "Misalkan dari spanyol ada wine. Kami berinovasi dengan membuat wine yang secara rasa sama dengan wine pada umumnya, tapi dengan bahan lokal Indonesia yaitu air tape," terang mahasiswa S-1 Pendidikan Tata Boga itu.
Setelah tahap penjurian ini, para mahasiswa akan mendapat nilai untuk mata kuliahnya. Bagi masakan terbaik, pemenangnya akan diumumkan di acara puncak Cipta Karya Boga yang akan diselenggarakan di Hotel Tunjungan, Surabaya, mei mendatang. (emir/danang/KK/Humas)
Share It On: