Masih ingat dengan kasus SDN Gadel? Kasus tersebut merupakan bukti bahwa kejujuran masih ada. Kasus contek massal di Surabaya Barat yang akhirnya menuai banyak sorotan media massa nasional itu menarik Jawa Timur TV (JTV) dalam menggelar dialog khusus bertajuk "Surabaya Cerdas dan Jujur" pada (14/7) di Graha Pena Surabaya. Dialog responsif itu mengundang beberapa narasumber, di antaranya Nanang Priyanto, Nur Hidayati, dan Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd. Mereka berbincang mengenai gerakan Surabaya cerdas dan jujur.
Terkait dengan persoalan SDN Gadel, Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd. memandang bahwa guru sebenarnya punya itikad baik, namun caranya yang salah, yaitu meminta muridnya yang pandai untuk memberikan jawaban. Dalam momen ini, orang nomor satu di Unesa tersebut berpesan agar dalam pelaksanaan UASBN, pihak sekolah tidak hanya berorientasi pada nilai, tetapi juga sikap. Di sekolah , siswa dapat dibiasakan bersikap jujur, peduli, tangguh, dan tentu saja cerdas, baik secara intelektual maupun spiritual. Selain itu, ia menyampaikan bahwa kejujuran jangan hanya dilakukan untuk satu hal, tetapi jujurlah dalam segala hal. Pria asal Ponorogo itu mengatakan ada tiga pilar dalam kejujuran, yaitu keteladanan, keseharian, dan waktu yang cukup lama. Ketiga pilar itu dapat dilakukan oleh siapapun, termasuk juga dalam lingkup sekolah. Implementasinya tentu harus disesuaikan dan tidak boleh hanya di sekolah, tetapi juga di rumah agar anak tidak bingung. Jika ketiganya dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan (habituasi). Sejalan dengan hal tersebut, Nanang Priyanto menyampaikan bahwa 16 Juli akan digelar deklarasi Surabaya Jujur dan Cerdas yang diselenggarakan di Tugu Pahlawan. [Rizka Amalia_Humas]
Terkait dengan persoalan SDN Gadel, Prof. Dr. Muchlas Samani, M.Pd. memandang bahwa guru sebenarnya punya itikad baik, namun caranya yang salah, yaitu meminta muridnya yang pandai untuk memberikan jawaban. Dalam momen ini, orang nomor satu di Unesa tersebut berpesan agar dalam pelaksanaan UASBN, pihak sekolah tidak hanya berorientasi pada nilai, tetapi juga sikap. Di sekolah , siswa dapat dibiasakan bersikap jujur, peduli, tangguh, dan tentu saja cerdas, baik secara intelektual maupun spiritual. Selain itu, ia menyampaikan bahwa kejujuran jangan hanya dilakukan untuk satu hal, tetapi jujurlah dalam segala hal. Pria asal Ponorogo itu mengatakan ada tiga pilar dalam kejujuran, yaitu keteladanan, keseharian, dan waktu yang cukup lama. Ketiga pilar itu dapat dilakukan oleh siapapun, termasuk juga dalam lingkup sekolah. Implementasinya tentu harus disesuaikan dan tidak boleh hanya di sekolah, tetapi juga di rumah agar anak tidak bingung. Jika ketiganya dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan (habituasi). Sejalan dengan hal tersebut, Nanang Priyanto menyampaikan bahwa 16 Juli akan digelar deklarasi Surabaya Jujur dan Cerdas yang diselenggarakan di Tugu Pahlawan. [Rizka Amalia_Humas]
Share It On: