
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA—Kedaulatan pangan masa depan tidak lagi bisa berdiri sendiri tanpa dukungan sains data dan bioteknologi yang mumpuni. Karena itulah, Universitas Negeri Surabaya (Unesa)memperkuat riset dan inovasi bidang sains dan pangan dengan menghadirkan Assoc. Prof. Chakrit Tachaapaikoon dari Thailand pada Kamis (9/4/2026).
Kehadiran pakar dari Negeri Gajah Putih itu selain menjajaki dan memperkuat ekosistem riset di Gedung IDB FMIPA guna merumuskan inovasi pangan yang lebih saintifik, berkelanjutan, dan berdampak nyata bagi masyarakat luas.
Kunjungan ini merupakan rangkaian program Visiting Top Professor (VTP) yang bertujuan mempertemukan perspektif teknologi pangan dari Fakultas Ketahanan Pangan (FKP) dengan kedalaman sains murni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).
Didampingi jajaran pimpinan fakultas, Chakrit Tachaapaikoon mengeksplorasi Gedung IDB (Islamic Development Bank), sebuah pusat laboratorium terintegrasi yang menjadi dapur inovasi Unesa. Di sana, diskusi berkembang dinamis mengenai proyek energi hijau hingga pemanfaatan bahan alam, yang membuktikan bahwa infrastruktur Unesa sangat kompetitif di level internasional.
Ketua Panitia VTP FKP 2026, Fitri Widya Handayani, menjelaskan bahwa kolaborasi lintas fakultas ini adalah bagian dari strategi "internasionalisasi yang membumi". Menurutnya, kedaulatan pangan membutuhkan dukungan kuat dari ilmu kimia, biologi, hingga sains data agar inovasi yang dihasilkan memiliki landasan yang kokoh.
"Kami ingin menunjukkan kepada mitra internasional bahwa Unesa memiliki ekosistem riset yang lengkap. Dukungan pilar sains dari FMIPA memastikan bahwa inovasi pangan yang dihasilkan FKP memiliki dampak signifikan, mulai dari teknologi pemurnian air hingga pengemasan pangan organik untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat," tuturnya.
Eksplorasi laboratorium ini merupakan manifestasi komitmen Unesa dalam mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Inovasi bioteknologi pangan yang dikembangkan selaras dengan upaya menghapus kelaparan (SDG 2), sementara riset energi bersih dan sanitasi air mendukung kelestarian ekosistem (SDG 6 & 7).
Hal ini membuktikan bahwa Unesa bukan sekadar pusat studi pertanian konvensional, melainkan institusi modern yang memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menjawab keresahan publik akan pangan yang aman dan terjangkau. ][
***
Sumber: Sinergi Sains Lintas Batas: Merajut Kolaborasi Inovasi Global di Jantung Laboratorium Terpadu UNESA
Kurator: @zam*
Foto: Tim FKP Unesa
Share It On: