
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id. SURABAYA – Bupati Madiun, Hari Wuryanto, mengingatkan para mahasiswa baru untuk memperkuat pemahaman dan kearifan budaya lokal sebagai benteng utama dalam menghadapi gempuran serta perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang kian pesat.
Pesan krusial tersebut disampaikan Hari Wuryanto saat menghadiri kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Auditorium Fisipol, Kampus I Ketintang, Surabaya, pada Selasa (18/8/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa baru Fisipol Unesa, Hari menegaskan bahwa pesatnya kemajuan teknologi digital harus diimbangi dengan penguatan karakter berbasis budaya agar generasi muda tidak kehilangan jati diri. Menurutnya, budaya merupakan warisan luhur yang menanamkan nilai integritas, etika, sopan santun, serta sikap saling menghargai.

www.unesa.ac.id
“Budaya itu bukan agama, tetapi sebuah ajaran yang membentuk karakter anak supaya terus dijaga. Kalau mereka memahami budaya yang ada di Indonesia, insyaallah tidak terjadi permusuhan di antara kita,” ujar Hari.
Ia juga menyoroti fenomena pemanfaatan AI yang kian masif di lingkungan akademik. Hari mengingatkan mahasiswa bahwa AI sejatinya hanyalah alat bantu ciptaan manusia. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut berpikir kritis serta tidak menelan mentah-mentah seluruh informasi dari teknologi tanpa filterisasi nilai dan konteks sosial budaya.
“Jangan sampai panjenengan (Anda) malah percaya sepenuhnya dengan alatnya. AI itu tidak konsisten jawabannya. Jadi, tetap jadikan budaya kita sebagai benteng supaya tidak mudah terpengaruh,” tegas Bupati Madiun tersebut.

www.unesa.ac.id
Merespons arahan tersebut, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fisipol Unesa, Muhammad Hisyam Asrofi, menilai pesan Bupati Madiun sangat relevan dengan realita mahasiswa saat ini yang rentan terjerat pola pikir serba instan akibat pesatnya arus teknologi.
“Budaya menjadi identitas sekaligus benteng utama mahasiswa. Teman-teman membutuhkan filter yang kuat agar tidak terbawa arus perubahan yang tajam di era ini,” kata Hisyam.
Hisyam menambahkan, kearifan lokal seperti tradisi pencak silat di Kabupaten Madiun dapat menjadi contoh nyata bagaimana identitas daerah mampu bertahan dan bersanding dengan modernisasi.
Melalui pembekalan ini, mahasiswa baru Fisipol Unesa diharapkan mampu memanfaatkan teknologi AI secara bijak dan kritis, sembari tetap memegang teguh kearifan lokal demi melahirkan generasi yang adaptif, berkarakter, serta berdaya saing global. ][
**
Reporter: Aldian Lukmanul Hakim (Fisipol)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: