
Prof. Dr. Hendratno, M.Hum., dikukuhkan sebagai guru besar pembelajaran sastra anak Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Unesa.ac.id. SURABAYA—Di tengah kepungan konten digital yang kian liar, sastra anak hadir sebagai instrumen krusial dalam membentuk kompas moral generasi masa depan. Hal tersebut ditegaskan Prof. Dr. Hendratno, M.Hum, Guru Besar Bidang Pembelajaran Sastra Anak, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Universitas Negeri Surabaya (Unesa), dalam orasi ilmiah pengukuhannya pada 29 Desember 2025 lalu.
Dosen kelahiran Lamongan itu membedah miskonsepsi yang selama ini menyelimuti dunia sastra. Menurutnya, sastra sering kali dianggap sebagai pelajaran rumit sehingga dipinggirkan di pendidikan dasar. Padahal, hakikat sastra adalah dulce et utile—menyenangkan sekaligus bermanfaat.
“Jika diajarkan dengan pendekatan yang tepat, sastra justru menjadi media paling efektif untuk menanamkan nilai budi pekerti sejak dini,” ujar pria kelahiran Lamongan, 2 September 1969 tersebut.
Ia menyoroti bahwa pesatnya teknologi seharusnya menjadi peluang, bukan ancaman. Guru dituntut mampu menjinakkan teknologi informasi agar tetap menjadi penuntun bagi siswa. Kehadiran sastra digital memang menawarkan aksesibilitas, namun sekaligus menghadirkan tantangan dalam penyaringan konten yang sesuai dengan psikologi anak.
Ia menegaskan bahwa pembelajaran sastra anak adalah bagian tak terpisahkan dari kurikulum bahasa Indonesia di sekolah dasar. Oleh karena itu, diperlukan integrasi dengan mata pelajaran lain agar tujuan pendidikan karakter dapat tercapai secara maksimal.
Pengalaman lebih dari seperempat abad di dunia tridarma, Hendratno meyakini bahwa sastra tidak cukup hanya diajarkan di atas kertas teori. Anak perlu dilibatkan langsung dalam proses kreatif; membaca, menulis puisi, hingga membuat cerita. Dari situlah tumbuh produktivitas sekaligus kecintaan terhadap literasi.
Ia juga memaparkan bahwa visualisasi memegang peranan kunci. Siswa sekolah dasar jauh lebih antusias pada buku cerita yang kaya ilustrasi. Karenanya, pengembangan buku cerita—baik cetak maupun digital—harus memanfaatkan animasi dan teknologi agar pesan didaktis di dalamnya lebih mudah terserap.
Salah satu poin substantif dalam orasinya adalah penggunaan Grafik Fry sebagai alat ukur keterbacaan teks. Dengan metode ini, guru dapat memastikan bahan bacaan sesuai dengan tingkat kemampuan pemahaman siswa.
“Pemilihan teks harus mempertimbangkan tingkat keterbacaan sekaligus nilai moral. Dengan begitu, membaca bukan sekadar mengeja kata, melainkan proses mendalam untuk memahami kehidupan,” jelasnya.
Penutup yang Menggugah Menutup orasinya, Prof. Hendratno memberikan pesan kuat bagi para pendidik. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, guru harus terus beradaptasi dan berakselerasi agar pembelajaran sastra tetap berwibawa di mata peserta didik.
“Melalui pembelajaran sastra yang mendalam, siswa tidak hanya memahami teks, tetapi juga belajar memaknai kehidupan,” pungkas sang guru besar. ][
***
Reporter: Ja’far (FIP)
Editor: @zam*
Foto: Tim Humas Unesa
Share It On: