
www.unesa.ac.id
Unesa.ac.id., SURABAYA—Ancaman penyalahgunaan narkoba kini tidak lagi menyasar remaja semata. Modus peredarannya pun semakin beragam. Untuk itu upaya pencegahan tidak cukup dilakukan ketika anak mulai beranjak remaja, tetapi perlu dimulai sejak masa kanak-kanak dengan membangun kemampuan berpikir kritis, mengenali risiko, dan berani menolak pengaruh negatif.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, dosen Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Muhammad Reza, mengembangkan Model Pembelajaran PRISE (Prompt, Reflect, Integrate, Stimulate, Evaluate) sebagai pendekatan pembelajaran untuk memperkuat kemampuan berpikir kritis dan sikap asertif anak usia dini sebagai fondasi pembiasaan hidup sehat.
Inovasi tersebut dipresentasikan dalam Sidang Terbuka Promosi Doktor Program Studi S-3 Teknologi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa melalui disertasi berjudul "Pengembangan Model Pembelajaran PRISE (Prompt, Reflect, Integrate, Stimulate, Evaluate) untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Asertif Anak Usia Dini sebagai Upaya Pembiasaan Hidup Sehat."
Reza menjelaskan bahwa selama ini edukasi pencegahan narkoba lebih banyak dilakukan ketika anak telah memasuki kelompok usia berisiko. Padahal, masa anak usia dini merupakan periode emas perkembangan otak yang sangat menentukan pembentukan karakter, cara berpikir, serta kemampuan mengambil keputusan.
"Jika sejak kecil anak dibiasakan berpikir sebelum bertindak, mampu membedakan perilaku yang aman dan berbahaya, serta berani menolak ajakan yang tidak baik, maka kemampuan itu akan menjadi bekal ketika mereka memasuki usia remaja, saat risiko penyalahgunaan narkoba mulai meningkat," ujarnya.
Menurutnya, pendidikan pencegahan narkoba tidak cukup hanya memberikan pengetahuan mengenai bahaya narkoba. Anak juga perlu memiliki life skills agar mampu melindungi dirinya ketika menghadapi situasi yang berisiko.
Atas dasar itu, Model PRISE dirancang tidak sekadar menyampaikan materi pembelajaran, tetapi membangun kebiasaan berpikir kritis dan sikap asertif melalui sintaks pembelajaran yang memadukan pendekatan behaviorisme, social learning theory, konstruktivisme, dan humanisme sesuai karakteristik perkembangan anak usia dini.
Model tersebut juga didukung berbagai media pembelajaran yang saling terintegrasi, mulai dari buku cerita, flashcard, hingga aplikasi gim edukatif D-CAN, sehingga proses belajar berlangsung lebih interaktif dan sesuai dengan dunia anak.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa Model PRISE mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan sikap asertif anak. Anak menjadi lebih mampu membedakan perilaku yang aman dan berisiko, lebih percaya diri menyampaikan pendapat, serta lebih berani menolak situasi yang tidak sesuai sebagai bagian dari pembiasaan hidup sehat sejak usia dini.
Tidak hanya memberikan manfaat bagi peserta didik, implementasi model tersebut juga mendapat respons positif dari para guru. Proses pembelajaran dinilai menjadi lebih aktif karena anak lebih banyak berdiskusi, mengemukakan pendapat, dan bermain peran. Ke depan, Reza berharap pendekatan tersebut juga melibatkan orang tua agar pembiasaan yang dilakukan di sekolah dapat berlanjut di lingkungan keluarga.
Sebagai bagian dari hilirisasi hasil penelitian, Model Pembelajaran PRISE telah diserahkan kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Timur. Menurut Reza, langkah tersebut menjadi peluang agar model pembelajaran ini dapat dikembangkan melalui pelatihan guru PAUD, penyusunan modul implementasi, hingga uji penerapan yang lebih luas.
"Harapannya tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi juga dapat menjadi bagian dari strategi BNN Pusat untuk menggerakkan seluruh TK di Indonesia menerapkan upaya pencegahan narkoba sejak usia dini secara simultan," katanya.
Baginya, membangun ketahanan anak terhadap narkoba pada dasarnya merupakan bagian dari membangun kemampuan mereka menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
"Jangan menunggu anak menghadapi masalah baru kita mengajarkan mereka cara melindungi diri. Mulailah sejak usia dini melalui komunikasi yang hangat, keteladanan, dan pembelajaran yang menyenangkan. Anak yang mampu berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapat akan memiliki ketahanan yang lebih kuat terhadap berbagai ancaman, baik narkoba, perundungan, maupun pengaruh negatif di era digital," pungkasnya.][
***
Reporter: Mochammad Ja’far Sodiq (FIP)
Editor: @zam*
Dokumentasi:
Share It On: